Kamis, 12 Januari 2012

Andianto Setiabudi, Bos Cipaganti Mantan Tukang Kue


Bergulat dengan hidup, itulah yang dilakukannya sejak kecil. Saat bisnis orang tuanya ambruk, ia tersulut untuk bangkit. Ia berjualan kue hingga lulus SMA. Setamat SMA, gairah untuk berbisnis semakin menggoda. Bukan hanya kue, tapi juga kacang Bandung, kacang sukro, biskuit dan kerupuk goreng. Lalu ditinggalkan dan beralih ke bisnis jual beli mobil bekas. Dari sinilah tinta sejarah kesuksesannya diukir. Bisnisnya berkembang hingga menjadi korporasi besar bernama Cipaganti Group.

Sukses itu selalu diwarnai dengan setumpuk cerita. AndiantoSetiabudi sejak kecil sudah banyak menyaksikan bisnis yang dijalankan orang tuanya di Banjarmasin. Meski orang tua tidak menekankan dirinya untuk menjadi pengusaha, tapi darah bisnis mengalir dengan deras di dirinya. Saat bisnis biskuit orang tunya bangkrut dan memaksa keluarganya untuk pindah  ke Surabaya lalu ke Bandung, Andi kecil tidak berdiam diri. Di kota Paris Van Java inilah, ia berjuang habis-habisan.

“Saat di Bandung, orang tua saya berbisnis juga tapi tak lama gulung tikar. Untuk kebutuhan sehari-hari, saya dan ibu berjualan kue basah. Sebelum sekolah saya antar kue itu ke toko, lalu sorenya mengambil uangnya,”kisah Andi.

Peminat kue basah ternyata tak terlalu banyak, karena itulah bisnis ini tak berlangsung lama. Lalu ia pun berpikir untuk mencari bisnis lainnya. Pilihannya akhirnya jatuh ke bisnis kue tambang. Di bisnis inilah sinyal kesuksesannya mulai terlihat. Setiap harinya Andi tak segan untuk mengantar kue tambang buatannya ke toko-toko, bahkan ia lakukan hingga tamat SMA di tahun 1981. Bisnisnya pun berkembang dengan pesat. ”Hasil dari jualan kue tambang ini saya bisa membeli rumah dan pabrik,”ucap pria kelahiran Banjarmasin, 5 Desember 1962 ini.


Sukses di kue tambang, Andi pun merangsek ke bisnis kacang Bandung dan kacang sukro. Puncaknya, ia juga merambah juga ke bisnis pabrik krupuk goreng dengan menggunakan dana pinjaman dari bank hasil dari menggadaikan rumahnya. Dugaannya tepat, karena kerupuk hasil jualannya pun laris manis di pasaran.
Namun bencana selalu datang tak terduga. Tahun 1982 Galunggung meletup. Jawa Barat porak poranda dan lahan pertanian rusak. Akibatnya bahan baku aci untuk membuat kerupuk pun musnah. Namun bagi Andi itu bukan akhir dari segalanya. Karena itulah ia mulai bangkit dan merintis bisnis lain.

Dalam setiap kegagalan selalu menghadirkan hikmah. Bisnis kerupuk semakin tak produktif, banyak mobil yang semula dipakai untuk keperluan bisnisnya kini tak terpakai. “Saya menjadi terpikir untuk menjual mobil-mobil itu. Akhirnya, saya menumpang iklan di showroom motor teman, lalu pasang iklan di harian Jawa Pos. Eh, mobil-mobil saya laku keras. Dari ketidaksengajaan itulah ide jual beli mobil muncul”, akunya.

Pelan tapi pasti, bisnis jual beli mobil yang dilakoninya mengalami kemajuan. Hingga ia bisa membuka showroom di jalan Cipaganti Bandung. Diakuinya untuk pertamakali ia hanya bisa menjual 5-6 unit mobil bekas saja. “Keuntungannya lumayan besar. Lebih besar dari jualan kerupuk. Kala itu saya menjual mobil-mobil tua seperti Mitsubishi Colt, Jeep dan lainnya,”ungkap pria yang memberi nama tempat usahanya dengan nama Cipaganti Motor ini.

Berkat kerja keras yang dilaluinya, Andi pun berhasil mendirikan beberapa showroom lainnya dengan nama Cipaganti. Dalam sebulan ia sanggup menjual hingga ratusan mobil bekas. Namun lagi dan lagi bisnis yang dilakoninya tidak berjalan mulus. Tahun 1991 ekonomi indonesia lemah dan pemerintah mengeluarkan kebijakan yang menimbulkan suku bunga tinggi. Implikasinya harga mobil terus turun hingga penjualan mobil pun terus turun drastis. Tapi ternyata dalam kondisi itu Andi menangkap peluang lain dengan cara menyewakan mobil-mobil itu.

Melihat gejala yang tak beres dan semakin sepinya transaksi, ia akhirnya memutuskan untuk menyulap beberapa showroomnya menjadi sebuah hotel. Ia pun terjun ke bisnis perhotelan dengan tetap menjalankan persewaan mobil. “Tahun 1994 saya juga merambah ke bisnis properti. Awalnya hanya membangun perumahan sederhana di kawasan Ciwastra. Ternyata proyek ini sukses dan saya kembali  membangun perumahan serupa di daerah Buah Batu, Bandung. Dan sejak itulah saya mendirikan perusahaan bernama PT. Cipaganti Citra Graha,”imbuhnya.

Setelah sukses di mobil, hotel dan properti, ekspansi sayap bisnis terus dilakukan Andianto. Dengan cerdas ia menyambar peluang bisnis berupa penyewaan alat-alat berat untuk perusahaan-perusahaan besar. Sukses di alat berat Andi juga menggarap sektor batu bara. Namun lagi dan lagi ujian datang bergiliran. Krisis moneter 1997 membuat sebagian bisnisnya luluh lantah. Di bidang properti bahkan ia sempat menghentikan pembangunan dan penjualannya. “Tapi krisis itu telah membuat saya tahan banting untuk selalu melakukan kreatifitas dalam menghadapi tantangan “ sebut suami Julianda Setiawan ini.

Baginya tantangan itu selalu membuat peluang baru . Usai krisis di tahun 2000 ia melenggang bersama kesuksesan yang sudah diraihnya. Ia juga telah mengembangkan bisnis otojasanya ke Jakarta. Saai ini Cipaganti Group telah memiliki 6 divisi utama yaitu Cipaganti Otojasa, Cipaganti Properti, Cipaganti Heavy Equipment, Cipaganti Resources, Hotel dan BPR Cipaganti Syariah. Terkait dengan BPR Cipaganti Syariah yang dirintisnya, ia mengaku tertarik masuk ke bisnis itu karena Cipaganti besar berkat bermitra dengan bank syariah. “Saya akan serius menggarap bisnis pembiayaan ini. Target saya tahun 2015 setidaknya BPR Cipaganti akan memiliki 29 kantor cabang. Saat ini Cipaganti Group sudah menjadi korporasi berskala nasional. Inilah jawaban sesungguhnya dari mimpi saya,”pungkasnya.(majels)


Tidak ada komentar:

Posting Komentar