Senin, 09 Januari 2012

Darul Mahbar, Mantan Dirut Kini Bisnis Jahe 500 Kg Sehari


Mewahnya hidup sebagai direktur utama sebuah Bank di Sumatera Selatan sudah ia rasakan. Namun ia tetap merasa gelisah. Akhirnya ia resign dan hengkang ke Jakarta, menjadi gelandangan tanpa tujuan. Pasca perjuangan keras, melalui jahe merah Cangkir Mas, Jakarta pun bertekuk lutut. Kini sehari ia bisa memproduksi 500 kg jahe dengan omset menggiurkan.

Jauh sebelum ia berhasil menembus kursi sebagai Dirut Bank di Palembang, Darul Mahbar sempat mencoba beberapa bisnis untuk menambah ekonomi keluarga. Mulai dari bisnis sembako, percetakan hingga distributor pulsa semua sudah dilakukannya. Namun sayang, bisnis-bisnis itu selalu berujung kisah kelam. “Bisnis sembako tutup, di percetakan kena tipu, di distributor pun berakhir dengan kebangkrutan”, ucap Darul mengenang masa lalu.

Debut profesionalnya dimulai dari tahun 1995 sebagai account officer di Bank Perkreditan Rakyat. Ketekunan dan kerja kerasnya membuahkan hasil. Setelah 10 tahun bekerja, tahun 2005 ia berhasil menjadi Direktur Utama BPR di Palembang.”Saat itu sebenarnya hidup saya sudah enak. Gaji besar tapi ternyata pengeluaran pun besar. Tiga tahun saya menjadi Dirut, saya memutuskan untuk keluar. Saya merasa karir saya sudah mentok. Tidak ada jabatan lain lagi yang saya kejar.”kisah lulusan Universitas Muhammadiyah Malang ini.
Keputusannya itu tentu berdampak besar. Perekonomian keluarga menjadi goyah. Dalam kondisi itu di tahun 1998 ia memilih untuk hijrah ke Jakarta tanpa rencana apapun. “Banyak orang yang menertawakan saya. Bagaimana tidak, semula posisi saya sebagai Dirut Bank lalu ke Jakarta menjadi pengangguran. Sebulan di Jakarta saya hanya main-main saja, tidak tahu apa yang mesti dikerjakan”, ungkapnya.

Mengisi kekosongan, ia dan seorang temannya nekat mulai berbisnis jual beli HP di Roxy Mas. Sayang hanya tiga bulan saja bisnis yang dijalaninya itu kandas. Beruntung disaat yang sama ia juga berbisnis gula aren dan tepung tapioka. Gula aren dan tepung tapioka ia tawarkan ke para pedagang pempek di Jabodetabek. Darul Mahbar sendiri yang memanggul peti-peti gula dan tepung itu. “Ya namanya juga menawarkan barang, tidak semua pedagang pempek menerima gula dari saya. Banyak pula yang menolak” kata pria kelahiran 23 Desember 1970 ini.

Secara kebetulan supplier yang memasok kebutuhan gula aren dan tepung itu juga menyediakan jahe. “Saya minta dikirimkan sampel satu karung jahe ke tempat saya. Awalnya saya mau jual lagi tapi ternyata sampelnya jelek, jadi saya biarkan saja jahe itu hingga mengering. Lalu teman saya bilang, sayang kalau tak digunakan mendingan dibuat minuman saja. Dibuatlah minuman dengan menggunakan blender. Eh ternyata rasanya enak,”ujarnya.

Dari situlah otak bisnisnya mulai bekerja. Karena ia tak paham seluk beluk jahe, ia pun mencari tahu dari berbagai referensi dan internet. Jahe hasil blenderannya pun ia tawarkan di internet. “Ternyata tawaran saya itu ada yang merespon. Wah ini prospek untuk dijadikan peluang bisnis”kata suami Endang Susilowati ini.
Produksi jahe pun mulai ia jalankan. Sehari bisa memblender 1 hingga 5 kg jahe. Masalah pun datang, blender yang digunakan selalu jebol. Sementara pasar semakin bergairah. Perlahan, masalah-masalah yang dihadapinya mulai terurai. Puncaknya, ia memberi kemasan eksklusif dan label Cangkir Mas pada produk yang dijualnya. Bukan itu saja, ia juga mengurus ijin usahanya secara serius.

Kini bisnis yang dilakoninya semakin berkembang pesat. Bahkan dalam sehari ia bisa memproduksi sekitar 500 kg jahe. Jahe yang diproduksinya pun dikemas dalam 3 varian kemasan; toples, sachet kotak dan sachet. Saat ini produk Cangkir Mas juga sudah bisa ditemukan di beberapa minimarket di Jabodetabek dan hypermarket di seluruh Indonesia. “Mengenai harga untuk yang sachet dijual dengan harga sekitar Rp 2000 ” akunya. Saat ini untuk meningkatkan kapasitas produksinya, ia juga tengah menjalani kerjasama dengan para petani di beberapa kota untuk terus menanam jahe merah. Selama ini bahan baku berasal dari bengkulu, Lampung, Jawa dan Sulawesi.

Bahkan, ia kini juga sudah membuka program kemitraan dengan nama Red Ginger Corner, sebuah kemitraan yang menjual aneka varian rasa jahe. Saat ini outletnya sudah tersebar di 10 kota di tanah air seperti  Jakarta, Bandung, Malang, Surabaya, Madura dan lain-lain. Untuk kemitraan harga yang ditawarkan berkisar 7,5 juta dan sudah mendapatkan fasilitas lengkap dengan produknya.
Ke depannya Darul Mahbar berkeinginan untuk memantapkan bisnisnya dengan mengangkat jahe ke kelas resto, bukan hanya KK5. Terkait omset ia hanya berkelakar, “Yang jelas bisa melebihi gaji saat saya masih jadi Dirut BPR dan bisa menghidupi 20 karyawan,” pungkasnya. (majels) 

1 komentar:

  1. Yang kyak begini ini..luar biasa,salut buat pak DM..berani keluar dari zona sangat nyaman..

    BalasHapus